Wajah-wajah yang lucu.
Aku teringat kupu-kupu yang lucu,
yang mengayun-ayun di ranting yang rapuh.
"Jablai gopek," terdengar teriakan suara kalian.
Hah? Benarkah itu kalian yang bersuara?
Ah, wajah-wajah yang lucu.
Mari sini,
kita berlagu saja, tentang kupu-kupu yang lucu.
Kupu-kupu yang mengayun-ayun tanpa lelah
di ranting-ranting itu.
Mari kita berlagu saja,
/kupu-kupu yang lucu/
/ke mana engkau terbang/
/hilir mudik mencari/
/bunga-bunga yang kembang/
Mudah, bukan?
Mari, wajah-wajah yang lucu.
Kita berlagu saja.
Sunday, May 11, 2008
KITA BERLAGU
MATA AIR HARAPAN DARI CIBEDUG
Anak-Anak Harapan dari Ulu Cai
Anak-anak yang ada di dalam foto di bawah ini adalah siswa SMP Sekolah Mandiri, Cibedug,
Mereka anak yang bersemangat, ceria, dan punya rasa ingin tahu yang besar. Semangat kebersamaan mereka pun terasa erat. Anak-anak yang “benar-benar” anak-anak. Begitu mudah tertawa, mengalir bagai mata air yang jernih dan segar dari desa itu. Namun, masihkah mata air itu membawa harapan?—saat air-air dari desa itu semakin banyak dikemas.
Anak-anak SMP ini sekolah pada siang hari, mulai pukul satu hingga pukul empat. Bukan mereka memilih masuk siang, tetapi karena pagi hari “ruang kelas” digunakan oleh adik-adik mereka yang masih duduk di SD.
Kebanyakan jarak rumah para siswa ini ke sekolah cukup cukup jauh, di “bawah” sebut mereka menyebut daerah tempat tinggal mereka. Biasanya, mereka jalan kaki.
“Sekitar setengah jam, Kak,” jawab mereka ketika saya tanya berapa lama waktu yang diperlukan untuk jalan kaki ke sekolah.
Buat mereka yang tinggal di “bawah”, tanjakan tajam—mungkin mirip “tanjakan setan” di salah satu gunung—menuju sekolah ini mungkin sudah bukan masalah lagi. Mereka adalah anak-anak yang bersemangat.
Hari Senin ini, 5 Mei 2008, siswa SMP yang kelas 3 (Kelas VIII) akan mengikuti UAN. Mereka ikut ujian di “induk”, sebutan sekolah negeri tempat mereka “numpang” ujian. Namun, saat marak diberitakan bahwa banyak siswa yang berdebar-debar takut tidak lulus karena nilai kelulusan yang tinggi, debar itu mungkin juga begitu kuat di antara siswa-siswa kelas 3 sekolah ini—apalagi, mereka belajar dengan guru dan fasilitas yang ada saja.
“Lulus SMP”, mungkin, adalah cita-cita yang akan mereka tulis jika ada orang yang memaksa mereka menuliskan apa cita-cita mereka.
“Doain saya lulus, ya, Kak,” ujar salah satu siswa perempuan, sebut saja Ida.
Ia sangat berharap lulus agar tidak membebani orangtuanya. Namun, ia tidak akan melanjutkan ke mana-mana. “Lulus SMP saja sudah untung, Kak,” ujarnya, “kakak saya saja cuma sampai SD, itu juga tidak lulus.”
Kalau melanjutkan ke SMA, orang tua Ida tidak punya biaya—apalagi, ada empat orang anak lagi di bawah Ida. Dan, sayangnya, saat ini, belum ada SMA Terbuka—konon, hal itu karena negara kita hanya mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun.
Dan, Ida tidak sendiri.
Mungkin, tak lama berselang, anak perempuan “menganggur” pun segera dinikahkan. Berkeluarga. Beranak-pinak. Dan, mengirim anak-anak mereka ke “lingkaran-tanpa-pilihan” itu lagi.
Ah, tampaknya, bukan nilai keluluasan yang tinggi itu yang membuat jantung mereka berdebar-debar kencang. Toh, jika mereka pun mengulang di kelas 3 SMP, biaya untuk sekolah di Sekolah Mandiri itu tidak perlu dikhawatirkan—mereka tidak perlu membayar “uang-sumbangan-sekolah”. Mungkin—ini hanya pikiran yang konyol saya—mereka akan senang jika tidak lulus karena berarti masih bisa sekolah, berstatus pelajar. Mereka jadi tetap punya tempat untuk belajar, membaca buku-buku di rak buku sekolah itu—yang baru sedikit dan senang hati menerima sumbangan buku jenis apa saja, yang penting menambah pengetahuan anak-anak.
Bayangan akan lulus dan tidak melanjutkan ke mana-mana mungkin lebih menghantui mereka. “Ya, pengennya ngelanjutin, Kak ….. Tapi, gak ada uangnya. SMA
“Tapi, saya bersyukur bisa sekolah di Sekolah Mandiri ini, Kak,” wajahnya mencoba sumringah.
Sekolah Mandiri: Kesahajaan Pak Ali dan Bu Tini
Sekolah Mandiri. Sekolah yang berlokasi di Jalan Pesantren, Kampung Cibedug, RT 01/04, No. 7, Desa Cibedug, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang didirikan oleh Pak Ali dan Bu Tini ini mengalirkan harapan bagi anak-anak usia sekolah di Desa Cibedug itu.
“Kita gak pernah bayar apa-apa, Kak, di sekolah. Kadang, buku juga dikasih,” cerita salah satu siswa Sekolah Mandiri ini.
Ya, sekolah ini memungut biaya apa pun kepada siswanya. Gratis. Sekolah ini terdiri atas
Namun, jangan bayangkan sekolah ini terdiri atas tiga bangunan, apalagi bertingkat, dan punya ruang-ruang kelas. Sekolah ini hanya sebuah rumah—tempat tinggal Pak Ali dan Bu Ali—yang disulap jadi sekolah pada pukul 07.00—16.00 WIB. Ruang kelas mereka adalah gabungan ruang tamu, garasi, dan teras. Meja rendah. Tanpa kursi. Hanya menggunakan karpet sebagai alas duduk—tapi, mungkin masih lebih nyaman dibandingkan dengan sekolah-sekolah roboh di daerah
“Waktu itu, waktu Ibu lagi jalan nyari udara segar, Ibu heran melihat banyak anak-anak usia sekolah yang berkeliaran pagi hari. Itu gak cuma sekali, tapi hampir tiap hari. Ibu nanya mereka dan mereka bilang gak sekolah. Trus, Ibu nanya-nanya sama ibu-ibu dekat sini. Ternyata, anak-anak daerah sini jarang yang sekolah,” Bu Tini membuka cerita tentang sekolah ini.
Ia dan suaminya, Pak Ali, sorang pensiunan sebuah bank swasta, pindah ke Desa Cibedug sekitar dua tahun lalu. Mereka ingin melewatkan masa pensiun mereka di daerah itu.
Daerah Cibedug yang cukup padat itu cuma 75 km dari Monas. Jadi, bukan daerah terpencil atau sebagainya.
“Mereka bilang karena gak ada biaya. Di sini,
Penduduk Cibedug rata-rata memang petani—tapi lahan-lahan sawah itu kebanyakan bukan milik mereka lagi. Pengaruh modernisasi—atau kredit motor murah?—membuat mereka memutuskan menjual tanah-tanah mereka dan menjadi tukang ojek. Namun, ternyata, penghasilan sebagai tukang ojek tidak lebih menguntungkan—malah mungkin merugikan. Tarikan sepi—ya, tentunya, penduduk
“Ibu sedih dengar kayak gitu. Anak-anak di sini banyak. Ibu pikir, hidup mereka bakal kayak gini-gini aja kalau mereka gak sekolah. Trus, Ibu bujuk Bapak buat bikin TK. Kan, Ibu juga tidak punya kerjaan. Alhamdulillah, Bapak setuju. Trus, Bapak ama Ibu nyari-nyari informasi tentang sekolah mandiri. Akhirnya, setelah ke sana-sini, alhamdulillah, kita bisa bikin TK.
Awalnya, muridnya cuma sedikit. Maklum, penduduk sini masih mikir ini dan itu. Yah, banyak juga tantangan dari lingkungan sini. Tapi, Alhamdulillah, lama-lama, banyak juga yang ngebolehin anaknya sekolah di sini.
Dari 100 orang anak, yang wisuda TK ada 50 orang. Dua kali seminggu, Ibu ngadain pengajian ibu-ibu yang nungguin anaknya TK. Biar ibu-ibu sini juga punya kegiatan.
Trus, Ibu mikir, ke mana mereka setelah TK. Akhirnya, Bapak dan Ibu bikin SD. Ya, kelasnya di ruang tamu ini. Mereka duduk seadanya saja. Oh, ya, Ibu kaget juga, ternyata sekolah mandiri kayak gini ada sekitar 17. Alhamdulillah, Ibu dan Bapak gak sendiri.
Setelah itu, Ibu mikir lagi, kasihan anak-anak kalau cuma sampe SD. Ibu dan Bapak pengen buka SMP. Alhamdulillah, ada rezeki dari anak Ibu, akhirnya, jadilah teras di luar itu. Jadi lebih lega dan bisa buat kelas SMP. Karena keterbatasan guru, anak SMP masuk siang. Awalnya, cuma Ibu ama Bapak yang ngajar. Kalau sekarang, Alhamdulillah, kita sudah ada guru lain. Semuanya sukarelawan. Bahkan, ada yang dari
Ya, meski sukarelawan, Bapak ama Ibu gak enak kalau gak ngasi mereka apa-apa. Yah, kita usahin buat sekadar ongkos meskipun mereka bilang mereka ikhlas ngajar. Katanya, sih, dari Induk ada bantuan buat guru. Tapi, yang ditunggu-tunggu itu gak pernah ada. Setelah ditanya-tanya, baru turun 100 ribu. Akhirnya, itu dibagi-bagi barang sedikit buat guru-guru.”
Menurut cerita Pak Ali dan Ibu Tini yang tampak selalu tersenyum bahagia, dana rutin mereka berasal dari dua orang anaknya dan juga adik-adik Bu Tini dan Pak Ali. Dari sukarelawan, belum ada yang rutin. Mereka juga sudah memasukkan proposal-proposal, tetapi tidak pernah (belum) ada yang tembus. Pak Ali dan Ibu Tini itu begitu bersahaja—asal lahirnya Sekolah Mandiri—dan mereka sangat terbuka dengan orang-orang baru. Mereka akan dengan senang hati membagi “jalan kebahagiaan” dengan siapa saja.
“Kalau ada yang mau jadi guru di sini, Ibu dan Bapak sangat senang. Tapi, kami tidak mau kalian repot juga karena jarak yang jauh. Ya, bantuan itu
“Wah, kalau cuma doa, berarti itu sudah sampai tahap selemah-lemahnya iman, tuh,” celetuk salah seorang teman saya. Kami tergelak, tersentil.
Menurut cerita Bu Tini dan Pak Ali, yang sungguh bijaksana itu, mereka juga resah memikirkan nasib anak-anak yang akan lulus SMP. Namun, apa daya, mereka baru bisa membuka sekolah sampai SMP—masalah ruang, biaya, guru, dan lain sebagainya.
“Sekarang, yang SD ada 35 orang. Harapan Ibu sekarang ini anak-anak SD ini pakai seragam. Ibu pengen liat mereka pakai seragam soalnya selama ini mereka belum punya. Pasti mereka senang sekali,” tambah Ibu Tini tentang harapannya.
Saya dan teman-teman ikut membayangkan anak-anak SD itu pakai seragam Sekolah Mandiri. Ah, betapa akan senangnya mereka mempersiapkan baju baru itu untuk esok pagi. Melenggang ke sekolah dengan seragam baru mereka itu. Mencium baru khas baju baru. Dan, menukar baju sehari-hari yang mereka kenakan—yang terkadang mungkin belum kering atau sudah “bau matahari”—dengan seragam itu. Betapa akan senangnya anak-anak SD itu.
Cerita Ibu Tini dan Pak Ali “merebut hati” kami yang mendengarnya. Betapa tulusnya niat mereka. Betapa mulianya. Betapa ikhlasnya. Betapa sabarnya. Betapa sangat berguna. Betapa bahagianya jika dapat membantu mereka, membantu anak-anak itu ….
Menurut teman saya, mendengar cerita Bu Tini dan Pak Ali seakan-akan melihat dan mendengar cerita di acara “K!ck Andi”.
“Namun, yang ini, begitu nyata tanpa halangan kaca. Keharuannya lebih saya rasakan,” katanya.
Ya, cerita Ibu Tini dan Pak Ali memang bukan cerita yang, hendaknya, “mampir” di hati kita, dan tidak hanya meresap dan hilang begitu saja. Itu adalah cerita tentang anak-anak yang bersemangat. Anak-anak masa depan. Anak-anak yang ingin tumbuh dengan cita-cita—dan berani menuliskannya di kertas atau mengucapkannya dengan lantang. Itu adalah cerita mata air harapan, yang akan kering jika “hujan” tak pernah lagi jatuh. Itu adalah cerita yang ingin berakhir bahagia. Semoga ….
***
P.S
Saat ini, saya dan teman-teman sedang mengumpulkan dana untuk mewujudkan harapan Ibu Tini—Ibu yang selalu tersenyum bahagia itu—dan, tentunya, harapan terpendam anak-anak SD Mandiri itu. Kami sedang mengumpulkan dana untuk baju seragam SD—bukan seragam merah-putih, tetapi seragam Sekolah Mandiri—kaus kaki, sepatu (jika memungkinkan), dan untuk ATK (jika dana untuk seragam berlebih). Namun, yang terpenting adalah pengumpulan dana untuk seragam.
Mungkin, cerita Ibu Tini dan Pak Ali ini juga “merebut hati” teman-teman. Dengan senang hati, kami menerima sumbangan untuk anak-anak Sekolah Mandiri, Desa Cibedug.
Untuk indformasi lebih lanjut, teman-teman dapat menghubungi kami.
Iwied/Gita: 021-91050620 (iwied_bae@yahoo.com)
Friday, April 11, 2008
A Little Girl
/Fragile as a leaf in autumn/Just fallin' to the ground/Without a sound/
Kutipan itu menjadi salah satu bagian lirik favorit saya dalam lagu "Seven Years"-nya Norah Jones. Membawa suasana. Entah dari sudut kenangan yang mana.
Seven Years
Spinning, laughing, dancing to
her favorite song
A little girl with nothing wrong
Is all alone
Eyes wide open
Always hoping for the sun
And she'll sing her song to anyone
that comes along
Fragile as a leaf in autumn
Just fallin' to the ground
Without a sound
Crooked little smile on her face
Tells a tale of grace
That's all her own
Fragile as a leaf in autumn
Just fallin' to the ground
Without a sound
Spinning, laughing, dancing to her favorite song
She’s a little girl with nothing wrong
And she's all alone
A little girl with nothing wrong
And she's all alone
Laki-Laki Tua di Sore Hari
Sore hari, sekitar pukul setengah empat, saya dan Gita melangkah di Jalan Kober, Margonda, Depok. Seorang laki-laki tua memikul dagangannya. Jajanan yang sudah jarang ditemui.
"Beli, Pak," ujar saya.
Pak tua yang memikul dagangannya itu berhenti.
"Saya memang mulai jualan sore, Neng," ujarnya.
Mungkin biar tidak menimbulkan "pikiran negatif" di benak saya dan Gita, sahabat saya, yang melihat dagangannya masih banyak.
"Berapa, Pak?" tanya kami, menunjuk pada ketan yang dibungkus rapi dengan daun kelapa itu, lepet.
"Seribu, Neng," jawab laki-laki tua itu. "Saya sudah sejak muda jualan, sejak taun 75," lanjutnya sambil membungkus lepet yang kami beli.
Saya dan Gita hanya bisa bilang, "Wah, udah lama banget, Pak. Kita aja belum lahir taun segitu."
"Iya. Sekarang, mantu saya aja udah empat," jawabnya.
"Ini bumbunya, Neng," tambah si Bapak memperlihatkan bungkusan kecil dengan kertas--yang setelah dibuka nantinya, ternyata, isinya serundeng (kelapa yang diongseng dan dicampur dengan gula pasir).
"Itu apa, Pak?" Gita menunjuk ke keranjang satu lagi.
"Kelepon. Sama, seribu juga," jawab Pak tua itu dengan senyum ramahnya.
Kami beli kelepon itu juga, yang dibungkus daun pisang.
"Bapak emang keliling, ya, Pak?" saya ingin tahu karena saya suka sekali dengan jajanan ini, tetapi jarang bisa menemukannya.
"Iya. Itu, rumah saya di belakang bidan," si Bapak tua menunjuk arah belakang kami. "Kemarin, ada acara di pameran gitu. Saya diundang tiga hari. Dapet lumayan, tapi, ya, ada potongan dari RT juga," si Bapak bercerita, masih dengan senyumnya yang ramah.
"Oh ...," gumam saya dan Gita. Potong-memotong, masalah lama yang selalu terjadi, kapan saja dan di mana saja. Ah ....
Kemudian, transaksi selesai dengan ucapan terima kasih dari kami.
"Udah tua gitu, masih jualan, ya, Wied. Kenapa gak anak atau mantunya aja, sih?" Gita membuka percakapan saat kami melanjutkan langkah.
"Iya, tau. Mungkin, dia orang yang gak bisa diem kali, Git.
"Mungkin juga, sih. Tapi, kasihan juga dah tua begitu."
"Iya ...."
Bapak tua itu entah sudah sampai mana. Yang pasti, dia terlihat menikmati langkahnya dan pikulannya itu, berisi lepet yang dibungkus rapi dengan daun kelapa, serundeng yang garing, dan "kelepon asli daun suji"--kata si Bapak saat membungkus kelepon itu.
Masa sekarang, mungkin kesulitan ekonomi yang membuat orang harus terus membanting tulang hingga tulang-belulangnya semakin rapuh dan meluruh.
Saya dan Gita melanjutkan langkah, cukup jauh.
Bapak tua yang memikul dagangannya itu juga melanjutkan langkah. Langkah-langkah yang sama sejak 1975. Langkah di antara jalan-jalan yang selalu berubah setiap jengkalnya.
Namun, tampaknya, bagi laki-laki tua itu, waktu seakan-akan berhenti dalam langkahnya. Langkahnya itu masih langkah yang sama sejak 33 tahun lalu.
Margonda, 10 April 2008
Monday, March 24, 2008
Mari!

mari menata
hari
pagi
mimpi
hati
diri
perempuan yang melenggang itu bilang,
saya telah lama menata
pancipanci
dengan rapi
ah, saya,
saya baru dan masih katakan, mari ....
Margonda di waktu pagi, 25 Maret 2008
Sunday, March 09, 2008
kegiatan yang tidak menarik

nggak melangkah?
melangkah?
nggak melangkah?
Friday, February 29, 2008
Kenangan Selalu Dilarikan Masa Lalu
Februari.
Masih penghujan. Ya, memang masih.
Marilah kita bercakap. Kau mau, kan? Ah, kau selalu terlalu banyak diam. Atau, aku yang selalu tidak punyak banyak waktu. Terbenam dalam langkah-langkahku sendiri, dalam arahku sendiri. Maaf.
Marilah duduk bersamaku. Kita bercerita. Bukankah kita pernah bercerita panjang, dahulu? Ah, aku lupa mengapa kita begitu sedih saat bercakap kali itu. Cerita yang diakhiri dengan tangisku. Juga tangismu. Ah, kau, seharusnya kau tidak menangis.
Kita juga pernah bercakap lama setelah jauh dari percakapan kita sebelumnya. Kita akhiri dengan air mata juga, benarkah? Ah, mungkin, karena itu kau, ah, bukan kau, aku, kita, tidak pernah bercerita lama lagi. Kita tidak ingin menangis lagi. Benarkah?
Tapi, marilah bercakap malam ini. Aku tidak akan membawakan cerita sedih. Aku juga tidak akan memarahimu. Memintamu melakukan ini itu. tidak akan menyuruhmu mengubah arah langkahmu. Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan membuatmu menangis.
Jadi, marilah duduk bersamaku, kita bercakap.
Kita akan bicara tentang tawa.
Atau, kita bicarakan tentang hujan saja. Tahukah kau, dalam Februari, dalam butir-butir hujannya yang jatuh, dia selalu menyelipkan cerita buatmu. Ah, sebenarnya, tidak hanya Februari. Selalu ada cerita untukmu yang terselip dalam setiap detak.
Namun, dalam Februari, hujan membawakan kembali kenangan-kenangan yang dilarikan masa lalu. Tentangmu, tentu saja. Maafkan aku lagi. Kenangan ini mungkin tidak sebanyak yang kita pikir. Dan, banyak yang memburam begitu saja. Tidak dapat diterka ada dalam cerita yang mana. Maaf, aku tidak merekatkannya erat. Mungkin, tangan-tanganku terlalu kecil saat itu, apalagi tanganmu. Masa kanak-kanak kita tidak dalam langkah yang sama. Aku menjauh, dipilihkan takdir. Dan, ketika aku tahu, waktu telah memilihmu untuk berjalan bersama.
Kenangan itu akan kembali dilarikan masa lalu. Akan selalu terjadi pada kenangan, bukan?
Tapi, kau. Kau bukan kenangan.
Kita akan selalu bercerita. Bersama. Tentang apa saja—dan tidak akan kita akhiri dengan tangis, tentu saja. Kita akan selalu bersama bahagia.
Subuh datang tidak terlalu terburu-buru kali ini. Ia masih di sini. Saat ia Kembali, aku ingin titipkan satu cerita kepada-Nya, untukmu—semoga sampai juga pesan singkat itu, “Aku rindu kepadamu, adikku”. Tahun selalu terburu-buru, terlalu mencintai masa lalu.
Ah, maaf, lagi-lagi, aku tidak bisa tidak menangis saat membicarakanmu.
Saturday, February 16, 2008
Biar Enggak Bosen di Kereta
Kereta membawa perjalanan panjang. Apalagi, kereta ekonomi. Selain panjang, sesak selalu ada di sana. Segalanya ada di sana.
Mungkin, terkadang, perjalanan menjadi begitu membosankan.
Tapi, ada berbagai cara buat mengatasinya.
Baca koran adalah salah satu cara yang cukup bermanfaat.
Saat baca koran, kita harus hati-hati. Mungkin, ada orang yang mencuri baca.
Gak pa-pa, sih, sebenernya. Tapi, risih gak, sih, diliatin? Padahal, orang itu gak peduli ama kita, sih. Dia cuma refleks aja pengen ikut baca. Tapi, tetep aja bikin gak konsen.
Trus, kalo bosen kembali menyerang, jangan kalut. Cari kegiatan lainnya, misalnya ngisi TTS. Biasanya, di kereta ekonomi ada yang jual, kok--lengkap dengan pulpennya. Trus, sibukkan diri kita dengan pertanyaan-pertanyaannya. Kalo ada jawaban yang kita udah tahu, nih, tapi kotaknya gak cukup, jangan panik. Yah, pindah aja ke lembar berikutnya. Kalo jawabannya gak tau, tapi malu nanya ma temen seperjalanan kita--kayak ada seorang temen saya--yah, gak usah malu. Nanya aja ama temen kita itu--biar dia gak bosen juga.
Setelah itu, kalo udah bosen ama TTS juga? Isi buku harian ajah. Tulisin aja segala perasaan bosen kita itu. Lama-lama, kita tambah bosen, sih, jadinya. Eh, jadi ngantuk, sih. Trus?
Kalo dah ngantuk, cari aja posisi tidur yang enak. Kalo keretanya lega--gak mungkin ada di akhir pekan--banyak gaya yang bisa dicoba.
Itu gaya yang beruntung duduk di pojokan deket jendela. Kalo gak?
Catatan: ruang kosong di sebelahnya merupakan pengecualian di kereta ekonomi. Kalo lagi rame-ramenya, hmm, jangan pernah meninggalkan tempat Anda! Kalo gak, ya, wassalam.
Gaya tidur orang di atas, ekstrem banget. Padahal, dia itu "perebut" kursi orang lain. Huh!
Kalo yang di bawah ini, .... kayak mau dieksekusi gak, sih? Karena itu, jangan lupa bawa handuk or kaen-kaenan gitu buat nutupin muka kalo gak biasa tidur di tempat terang--kayaknya, kita gak bisa, deh, minta tolong pak masinis buat matiin tuh lampu dengan alasan kita gak bisa tidur kalau tidak di tempat gelap, kecuali kalo kita emang lagi beruntung/sial duduk di gerbong yang lampunya rusak.
Kalo terbangun tengah malem dan semua temen seperjalanan kita tertidur-berusaha-pulas. Kita pasti merasa bosen lagi. Trus, laper pula. Jangan khawatir, kereta ekonomi tidak pernah tertidur. Para penjaja selalu ada di sana.
Perjalanan selalu panjang di kereta.
Percakapan terasa sudah begitu banyak.
Namun, terkadang, cerita tidak selesai.
Terkadang, alurnya tidak dapat ditebak, padahal kita sudah berkali-kali dalam perjalanan yang sama.
Jadi, nikmati saja.
Toh, stasiun yang kita tuju sudah jelas tertera dalam tiket, tersimpan aman dalam saku.
potongan puzzle yang tidak sama
Beberapa malam lalu, saya memutuskan kembali ke masa lalu. Lorong waktu itu ada di sana sejak lama, dibawakan seorang teman. Ada hal yang harus membuat saya memutuskan kembali ke masa lalu. Ada yang mengancam masa sekarang saya —dan mungkin juga masa mendatang saya—karena hal kecil yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu.
Saya hampir menyelesaikan susunan puzzle kekinian—meminjam istilah Mas Ia—saya. Namun, tiba-tiba, ada goresan kecil pada pinggiran sketsa yang saya susun. Padahal, potongan puzzle yang saya susun telah ada di tempatnya masing-masing. Bahkan, saya sedang bersiap dengan potongan untuk bagian yang lain.
Sebuah goresan. Itu membuat sketsa kekinian saya tidak seperti yang seharusnya. Bahkan, saya takut, di masa mendatang saya, goresan itu akan melebar dan akhirnya merusak tampilan sketsa saya.
Karena itu, saya putuskan untuk masuk ke lorong waktu itu. Saya pikir, ada kesempatan untuk memperbaiki itu semua. Ada peluang untuk mengembalikan semua seperti semula. Kembali pada titik saat sesuatu itu belum menjejak di masa sekarang saya. Lalu, saya putuskanlah untuk menggunakan lorong waktu itu—ia ada memang untuk menyelesaikan apa yang tidak kau inginkan, itulah anggapan saya.
Kembali ke masa lalu. Tentu saja hal yang ada masa kini tidak akan sama lagi, saya tahu tentang itu. Tapi, ada cara untuk mengecoh masa. Simpanlah baik-baik apa yang ingin kau pertahankan di tempat lain, di luar bagian semesta yang akan dikembalikan ke waktu sebelum sesuatu—goresan—menjejak dan menjadi mimpi buruk. Itulah yang saya ketahui sebagai cara untuk mempertahankan apa yang tidak ingin kita usik. Yang bisa kita masukkan kembali nanti, saat kita telah mencapai titik—yang kita pikir—aman.
Saya telah tahu itu. Karena itu, saya dengan cepat memutuskan untuk kembali ke masa lalu ketika ada goresan kecil yang saya rasa mengusik kekinian saya itu. Jika dibiarkan, goresan kecil itu akan menjadi besar dan mungkin akan membahayakan masa mendatang saya—yang belum dapat saya intip sedikit pun. Namun, ada bahaya yang mengancamnya dan tentu saja hal itu membuat saya waswas. Kekinian dan masa mendatang saya harus diselamatkan, bukan.
Lalu, mulailah saya masuk lorong waktu—kembali ke titik sebelum sesuatu yang membahayakan kekinian dan masa mendatang saya. Sebelumnya, tentu saja hal yang ingin saya pertahankan telah saya simpan di luar semesta saya yang akan kembali ke masa lalu. Nanti, saat atmosfer saya aman, akan saya pasangkan kembali hal yang saya pertahankan itu—potongan puzzle yang telah saya ketahui di mana letaknya. Potongan puzzle itu telah saya tandai dan dengan mudah semua akan terpasang—tidak perlu lagi membuang waktu. Tentu saja, sketsanya sudah saya hafal dan saya akrabi.
Mulailah perjalanan waktu ke masa lalu itu. Tidak ada yang akan berubah pada sketsa saya, tidak ada yang akan bergeser. Potongan-potongan puzzle telah saya rekatkan erat-erat dalam kotak rahasia, sisi teraman benak saya. Lalu, sampailah saya di masa belum ada goresan pada sketsa. Di sana, potongan puzzle memang belum terpasang. Tidak apa-apa, toh, saya sudah merekamnya lekat-lekat dan hanya tinggal menaruhnya kembali.
Namun, saat kotak rahasia itu terbuka, saya mendapatkan kejutan, yang tidak saya harapkan. Dan, saya memang terkejut. Potongan-potongan puzzle dalam kotak rahasia itu belum ditandai. Masih seperti semua saat pertama kali saya menerimanya di titik awal. Dari-Nya.
Dan, saya sudah kembali ke masa lalu. Di masa lalu itu, ingin kembali lagi ke saat saya belum kembali ke masa lalu. Ke tempat hampir semua potongan puzzle telah terpasang di sketsa. Di tempatnya masing-masing.
Sekarang, saya sudah berada di masa lalu. Kemudian, saya ingin kembali ke masa saat saat saya belum kembali ke masa lalu. Jadi, bukankah itu masa depan?
Ah, adakah lorong untuk ke masa depan? Saya begitu memikirkannya. Namun, bukankah saya telah tahu dan telah begitu menyadari bahwa semua akan berubah saat kembali ke masa lalu. Harus ada yang hilang jika saya tidak menyimpannya baik-baik, merekamnya lekat-lekat, menutupnya erat-erat dalam kotak rahasia.
Jadi, sekarang, kekinian saya adalah masa lalu yang saya datangi dari masa depan. Saat ini, masa lalu ini bukanlah masa lalu. Ia kekinian saya. Dan, ada lagi masa lalu dari masa lalu—kekinian—saya ini.
Lalu, apakah saya masih ingin sibuk mencari jalan ke masa depan agar saya tidak berusah-susah lagi memilah-milah potongan puzzle yang pas untuk sketsa masa lalu—kekinian—saya ini? Berapa lama waktu yang saya perlukan? Berapa banyak goresan lagi yang akan saya buat dalam sketsa ini?
Lalu, mengapa tidak saya terima saja masa lalu—kekinian—saya ini sebagai kekinian saya—tanpa tambahan kata “masa lalu”. Hanya kekinian. Inilah kekinian saya. Yang harus saya jejaki agar saya sampai ke masa mendatang saya—yang sempat saya jejak.
Bukankah saya memang telah memutuskan untuk kembali ke masa lalu?
Segala sesuatu memang mempunyai ceritanya sendiri. Sekarang, saya harus menjalani cerita masa lalu ini. Sekarang, ia bukanlah masa lalu itu. Inilah kekinian saya.
Friday, February 08, 2008
SORE

ada sore yang sempat kita perbincangkan
yang menghilang begitu saja sebelum kita sudahi
sore yang kita bicarakan kemarin, seperti inikah?










